(Source: pusheen)
Reblogged from pusheen, 25,063 notes, May 24, 2012
BUNNIES.
How can anyone dislike bunnies?
(Source: all-those-fairy-tales-cametrue)
Reblogged from fat-rabbits, 28,696 notes, May 24, 2012
Reblogged from hellomissduh, 12,011 notes, May 10, 2012
Somehow you just live because your instinct tells you to live. You were just born and since then, have been obliged to stay breathing until now, the very second you read this writing. But do you ever ask why? Do you want to ask why?
I wonder if anyone ever set a reason, a raison d’etre, of why they choose life over death.
I wonder if they don’t simply ignore their existence, I wonder if anyone wants to put meaning and reason behind it.
If they know how they always can die, but somehow they choose to live anyway.
At least I think I need it now. I need to set a permanent and strong reason to back up my existence. A purpose.
Because I’m tired of being a slave to events that happened to me, of being a walking zombie, a machine. I want a choice. A fair choice. A brave choice.
To choose life over death, and say to myself in the morning, or every time something bad happens.
“I choose to live, so I have to cope with this.”
0 notes, April 21, 2012
Terseret-seret mendorong gerobakmu, orang tengah malam, ketika orang-orang lain menguap di atas bantal bulu angsa mereka. Karung-karung sampah yang kau kumpulkan sejak pagi tergolek menemani tanganmu, yang memeluk dan mendorong mereka lambat-lambat. Kepalamu dipenuhi berbagai memori, tanya, dan sedikit khayalan-khayalan hampa. Jalan-jalan telah kosong, tak ada yang membunyikan teriakan klakson dari pinggir jalan seperti biasa. Ini dunia sekarang milikmu saja.
Menyala dengan lampu di atas tendamu, orang-orang tengah malam. Menyediakan nasi goreng panas untuk orang-orang yang masih terjaga, berkeliaran jauh selepas senja. Mendengarkan mereka berbicara tentang hidup mereka, orang-orang yang tak mereka suka, dan bahkan tentang cinta. Menahan kantuk yang menggelayuti mata. Kau bilang kau mau terjaga, untuk apapun yang bisa kau dapat, dari orang-orang yang terjaga.
Memeluk tubuh dengan kaki yang mengerut kedinginan, orang-orang tengah malam. Bersembunyi di emperan toko-toko yang telah tutup, pagar-pagar yang dikunci. Memikirkan tentang ranjang fiksi yang kau bentuk di kepalamu, yang terlindungi kupluk lusuh yang belum kau cuci sejak dua bulan lalu. Persetan dengan orang-orang kaya dan pil-pil tidur mereka, kau bisa memejamkan mata di tempat-tempat tak terduga.
Tak ada yang melihatmu, orang-orang tengah malam. Mereka terlelap dan menutup mata, tapi eksistensimu tak butuh persetujuan siapa-siapa..
13 April 2012, sepulang dari Jakarta
0 notes, April 21, 2012